Berdansa dengan Sepeda
Seolah seorang pemain sirkus profesional, tanpa
tanggung Ferdin,Ardi dan Beni beraksi diatas sepeda BMX kesayangannya. Kaki kanan menginjak pegs
(jalu),satu tangan memegang grip pada stang dan satu tangan lagi memegang pegs
roda depan.Sepeda mini itu berdiri hampir 80 derajat dengan tumpuan satu roda.,
Sepedapun berputar perlahan seiring dengan liukan tubuh remaja ABG itu. Putaran
kemudian berubah menjadi cepat dan semakin cepat. Gerakan seimbang nan dinamis
itu memang hanya berlangsung sekitar 2 menit, namun cukup membuat orang yang
melihatnya cukup terkagum-kagum dan pasti merasa heran.
Orang awam yang melihat
unjuk kebolehan bermain sepeda BMX itu pasti mengatakan gerakan barusan memang
sulit dilakukan. Namun, tidak bagi komunitas pesepeda BMX. Trik yang dinamakan
Steamesine tadi,ternyata baru trik yang menengah. Masih ada jajaran banyak
trik-trik yang lain yang tentu saja makin membuat orang semakin terkagum-kagum.
Sepeda, bagi komunitas
ini memang punya fungsi tak lazim. Bukannya dipakai untuk alat transportasi
anti polusi atau sebagai bersepeda biasa, tetapi malah digunakan untuk menari
dan berdansa. “Kami menyebutnya berdansa dengan sepeda,” kata Ardi sembari
tersenyum. Yang jelas berbeda dengan istilah kata berdansa pada umumnya yang
kita ketahui seperti salsa. Dansa ala komunitas BMX Ponorogo ini bisa
dibilang mengerikan, ekstrim bahkan mengandung resiko celaka.
Meski demikian, karena sudah terlanjur “jatuh hati”, tubuh memar karena mencium aspal dan tangan terluka, seolah tak dirasakan lagi. Dalihnya, semakin sering terjatuh semakin banyak trik yang bisa dikuasai. “Begitulah jatuh dari sepeda,sakitnya cuma sebentar kok,masih sakitan kalau sakit hati", tambah ujarnya anak kuliah di salah satu Universitas di Ponorogo ini sambil diiringi tertawa bersama temannya sesama penggila BMX.
Belajar menari dengan sepeda BMX, menurutnya tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Untuk beradaptasi dengan sepeda yang stangnya mampu berputar 360 derajat itu, diperlukan waktu sekitar satu bulan. Tetapi untuk menguasai satu trik, dibutuhkan waktu minimal tiga bulan. “Tetapi tergantung triknya juga. Kalo yang agak sulit, waktunya bisa lebih lama"Waktu belajar yang relatif singkat itu diakuiny tak akan berarti tanpa dibarengi dengan sikap mental yang baik.Diantaranya kesabaran, keuletan, ketelatenan, dan juga nyali. “Tapi yang nomer satu adalah niat belajar bermaen BMX,” seluruhnya bijak.
Hal itulah yang sepertinya cukup sulit diterapkan.
Terbukti, banyak juga remaja seusia mereka yang awalnya tertarik untuk belajar
memainkan sepeda mini ini namun dibalik itu tujuannya hanya untuk menarik
perhatian lawan jenis. “Kita paling gak suka, kalo belajar BMX cuma buat
nampang dan buat ngeksis” geram Beni, pentolan BMX yang lain.
Meskipun diakuinya, mahir memainkan sepeda BMX bisa
jadi membuat kaum cewek terpesona. Mengingat olahraga yang termasuk mahal ini,
sangat jarang yang bisa menguasai. Tetapi, justru hal itulah yang
mati-matian dihindari oleh komunitas yang dikenal lewat nama POXY (Ponorogo BMX Comunity)
itu. Pasalnya, pacaran menurut mereka hanya akan membuat mereka lupa pada sang
sepeda. Alhasil, sebagian besar anggota komunitas ini memilih men-jomblo. “Kita
semua ini jomblo,” promosi Ferdinan diiringi tawa berderai yang lain.
Yang lebih ekstrim, untuk mendukung gerakan men-jomblo-nya, komunitas yang berdiri sejak tahun 2004 itu, kini mengusung motto “No Women in Here” (Tidak boleh ada cewek dikomunitas ini). Motto ini rupanya efektif untuk membuat mereka tetap kompak diusia yang menginjak 9 tahun. Meskipun motto itu agaknya hanya sekedar jargon, karena dua diantara mereka tidak betah berlama-lama men-jomblo dan memilih berpacaran.
Kini, kelompok yang digawangi Ferdin, Ardi, Beny, ini
mampu menunjukkan taringnya di antara komunitas-komunitas lain di Ponorogo.
Hampir 15 triks berdansa dengan sepeda mereka kuasai. Sebut saja diantaranya
Lakiar, Dragkiar,Time Machine, Fucky Chicken, Hang Five, Stame Poller,Ciker dan
Clif Hanger dan lain sebagainya. “Masing-masing dari kita punya trik andalan. Kalo
yang kita kuasai kira-kira 15 trik,” ujar para anak-anak pesepeda BMX ini.
Yang lebih patut diacungi jempol, ternyata mereka
mampu menghasilkan tambahan uang saku dari hobi berjumpalitan dengan sepeda
itu. Padahal rata-rata dari mereka masih berusia remaja. Yaitu antara SMA
dan kuliah. Penghasilan tambahan itu didapat, ketika komunitas ini mendapat
kesempatan untuk tampil dalam sebuah event. Yang paling gress
Wah, kecil-kecil cabe rawit juga ya? (^__^)

2 comments:
boss,,,,,, hebatt ,,,,, bmx freestyle nya kaya Ardi Satria Fanditama (Matt Wilhelm)
semangat terus nyampe mendunia,,, ane ponorogo juga,
terima kasih
Post a Comment